Konsorsium Riset dan Inovasi hasilkan Teknologi Pendeteksi Covid-19 Buatan Anak Bangsa

Jakarta – Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) melalui Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 siap untuk mendorong hilirisasi produk inovasi dan menyinergikannya dengan berbagai lembaga. Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro berharap dari konsorsium tersebut tercipta berbagai macam produk inovasi karya anak bangsa yang memiliki keandalan dan tingkat akurasi yang tinggi dalam membantu pemerintah menangani Pandemi Covid-19 di Indonesia.

Melalui kegiatan Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 yang dilakukan Kemenristek/BRIN, pemerintah mendorong, memfasilitasi serta mendukung kegiatan yang dilakukan Universitas Gajah Mada, Badan Intelejen Negara, TNI AD, PT Hikari, PT YPTI, PT Stechoq, PT Nanosense Instrument dan PT Swayasa Prakarsa yang terjalin dalam Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 untuk mengembangkan alat deteksi Covid-19 yang merupakan Teknologi Pengendus Elektronik Cepat dan Berbiaya Rendah, serta dengan Sensitivitas tinggi untuk mendeteksi Covid-19 lewat hembusan napas atau disebut GeNose.

GeNose bekerja secara cepat dan akurat mendeteksi Volatile Organic Compound (VOC) yang terbentuk karena adanya infeksi Covid-19 yang keluar bersama nafas seseorang. Nafas orang diambil dan diidentifikasi melalui sensor-sensor yang kemudian datanya akan diolah dengan bantuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) untuk pendeteksian dan pengambilan keputusan. Selain unsur kecepatan dan keakurasian, GeNose didesain sangat mudah digunakan sehingga dapat dioperasikan oleh seseorang secara mandiri dan efisien.

GeNose merupakan inovasi pertama di Indonesia untuk pendeteksian Covid-19 melalui hembusan nafas yang aplikasinya terhubung dengan sistem cloud computing untuk mendapatkan hasil diagnosis secara real time.  GeNose juga juga mampu bekerja secara paralel melalui proses diagnosis yang tersentral di dalam sistem sehingga validitas data dapat terjaga untuk semua alat yang terkoneksi. Data yang terkumpul di dalam sistem selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk keperluan pemetaan, pelacakan dan pemantauan penyebaran pandemi secara aktual.

“Alat ini diharapkan dapat membantu pemerintah dalam meningkatkan prosentase deteksi Covid-19 di masyarakat, dan dapat memberikan hasil yang akurat untuk dapat memetakan penyebaran Covid-19 di Indonesia” ujar Bambang pada acara Public Expose GeNose di Jakarta.

Uji profiling (kalibrasi) pada alat ini juga sudah dilakukan dengan menggunakan 615 sampel data valid di Rumah Sakit Bhayangkara POLDA DI Yogyakarta dan Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid Bambanglipuro di Yogyakarta. Hasilnya menunjukkan tingkat akurasi tinggi, yaitu 97 persen. Selanjutnya, GeNose akan  memasuki tahap uji klinis yang akan dilakukan secara bertahap dan tersebar di sejumlah rumah sakit di Indonesia. Keandalan alat, keakurasian data, dan kesahihan metoda yang diterapkan diharapkan bisa meningkatkan keyakinan pengguna akhir untuk segera mengadopsi aplikasi GeNose bagi kepentingan masyarakat luas.

Dalam penjelasannya, Wakil Rektor UGM Bidang Kerjasama dan Alumni, Prof. Dr. Drs. Paripurna, S.H., M.Hum., LL.M., mengatakan bahwa alat yang berbasis AI ini memiliki spesifitas dan sensitivitas yang tinggi serta yang terpenting adalah Non-Invasif. Sehingga diharapkan masyarakat tidak takut lagi melakukan test.

“Kami berterima kasih kepada Badan Intelijen Negara yang sejak awal mendampingi dan memberikan support luar biasa dalam realisasi riset ini. Kami juga berterima kasih atas kesempatan yang diberikan oleh Kemenristek/BRIN untuk mempresentasikan performance dari alat ini dan kami sangat mengharapkan dukungan dari Kemenristek/BRIN”. – Ujar Paripurna.

Teknologi & Produk GeNose ini diharapkan dapat memutus penyebaran Covid-19 dengan surveilans penderita Covid-19 secara massal karena:

  1. Biaya per test murah (consumable dan harga alat murah)
  2. Hasil dapat terlihat dengan cepat
  3. Tidak memerlukan teknisi yang terampil karena tidak invasive (tanpa injeksi)
  4. Berbasiskan elektronik sehingga bisa diproduksi secara massal dengan mudah
  5. Analisa data berbasiskan AI, sehingga dapat diparalelkan dengan mudah sehingga dapat melakukan tes dengan masif melalui sensor yang banyak
  6. Spesifitas dan Sensitivitas yang tinggi
  7. Akan dikembangkan sehingga dapat menjadi alat diagnosa
  8. Teknologi yang sangat unik, mungkin yang paling siap untuk komersialisasi, dan diharapkan dapat dilakukan proses Ekspor ke berbagai Negara.

Public Expose GeNose yang diadakan secara virtual  melalui kanal Youtube Kemenristek/BRIN ini juga dihadiri Kepala Badan Intelejen Negara, Jend Polisi (Purn.) Prof. Dr. Budi Gunawan, S.H., M.Si., Deputi Bidang Intelijen Teknologi BIN, Mayjen TNI Afini Boer, Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Kepolisian Republik Indonesia, Brigjen Pol Dr. dr. Rusdianto, M.M., D.F.M., M.Si., Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kemenristek/BRIN, Ali Ghufron Mukti, Plt. Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristek/BRIN, Muhammad Dimyati; Direktur Pengembangan Teknologi Industri Kemenristek/BRIN, Hotmatua Daulay, dan perwakilan dari industri pendukung GeNose.

“Kami mengapresiasi atas dikembangkannya GeNose, dan diharapkan Public Expose ini dapat menjadi pemacu tim UGM dan konsorsium terkait untuk segera menghilirisasi produk ini” tutup Bambang dalam arahannya.

 

Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan
Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *